Rabu, 03 November 2010

Artikel Ilmiah


Mengembangkan Kecerdasan Linguistik Anak Sejak Usia Dini

Vita Fristian

Abstrak: Sebagai generasi penerus bangsa, anak harus mendapatkan pendidikan dan keterampilan. Agar anak dapat memperoleh pendidikan dan keterampilan dengan baik, anak harus memiliki kecerdasan yang baik pula. Salah satu jenis kecerdasan yang sangat penting peranannya bagi masa depan anak adalah kecerdasan linguistik. Berbagai kebutuhan dan faktor dari dalam maupun dari luar sangat mempengaruhi kecerdasan linguistik anak. Stimulasi dini adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan kecerdasan linguistik anak. Pemberian stimulasi yang benar dapat meningkatkan kompetensi berbahasa pada anak.

Kata kunci: kecerdasan linguistik, kebutuhan anak, stimulasi dini, kompetensi berbahasa

Anak adalah generasi penerus bangsa yang sangat diharapkan peranannya di masa depan. Sebagai generasi penerus bangsa, anak harus mendapatkan pendidikan dan keterampilan sebagai bekal untuk masa depannya. Pemberian pendidikan dan keterampilan tidak akan berhasil tanpa mengetahui potensi yang dimiliki anak. Potensi dapat digali dari kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda dan tipa kecerdasan yang dimiliki anak tidak ada yang tidak berguna. Semua kecerdasan memiliki peranan yang penting bagi masa depan anak. Salah satu kecerdasan yang sangat penting peranannya bagi masa depan anak adalah kecerdasan linguisti. Hal ini tidak berarti jenis kecerdasan yang lain tidak penting, tetapi kecerdasan linguistik merupakan kecerdasan yang mempengaruhi jenis kecerdasan lainnya. Menurut Dr. Howard Gardner, dalam Mengikat Makna (Hernowo,2002:160), kecerdasan yang dimiliki manusia ada delapan macam, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Semua kecerdasan ini pada dasarnya memerlukan kecerdasan linguistik dalam penerapannya, sebagai contoh kecerdasan logika matematika. Seseorang yang memiliki kecerdasan logika matematika sebenarnya juga memiliki kecerdasan linguistik, tetapi mungkin dalam tingkat yang lebih rendah dari kecerdasan logika matematika yang dimilikinya. Untuk memahami pola, membuat argumentasi yang logis diperlukan kecerdasan linguistik karena tanpa bahasa seseorang akan mengalami kesulitan saat menyampaikan atau memahami sebuah materi tertentu. Dalam perkembangannya, kecerdasan linguistik dalam diri anak dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi agar mempermudah dalam mengenali kecerdasan linguistik yang dimiliki anak. Berbagai kebutuhan ini dapat diperoleh dari keluarga maupun dari lingkungan luar. Perkembangan kecerdasan linguistik anak juga tidak lepas dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan linguistik anak. Faktor-faktor ini dapat berasal dari dalam diri anak dan ada juga yang berasal dari lingkungan luar.

Sebagai kecerdasan yang memiliki peranan yang sangat penting, kecerdasan linguistik pada anak harus dikembangkan sejak dini. Pengembangan kecerdasan linguistik pada anak sejak dini sangat penting karena otak anak berkembang saat anak sejak dalam kandungan dan ketika anak mulai mengenal berbagai hal baru dalam kehidupannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan linguistik anak adalah dengan memberikan stimulasi dini. Stimulasi dini sangat penting karena dengan memberikan stimulasi sejak dini pada anak, kecerdasan linguistik yang dimiliki anak menjadi lebih mudah untuk dikembangkan. Stimulasi dapat dilakukan dengan cara-cara yang sederhana dengan atau tanpa menggunakan alat, bergantung pada kebutuhan anak. Alat digunakan untuk menunjang pemberian stimulasi pada anak agar anak lebih mudah melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan kecerdasan linguistiknya.

Pemberian stimulasi kepada anak diharapkan dapat membantu anak memperoleh berbagai kompetensi berbahasa.

A. Kecerdasan Linguistik

Istilah kecerdasan Linguistik digunakan untuk mendeskripsikan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan berbicara, menulis, membaca, dan semua kemampuan berbahasa seseorang. Gardner, dalam Mengikat Makna (Hernowo,2002:163) menyatakan bahwa kecerdasan linguistik atau yang biasa disebut kecerdasan berbahasa, memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun secara lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya.

Anak-anak dengan kecerdasan berbahasa yang tinggi, umumnya ditandai dengan kegemarannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya. Anak-anak seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat terhadap nama-nama seseorang, istilah-istilah baru maupun hal-hal yang bersifat detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal penguasaan bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lain. Selain ciri-ciri tersebut ada beberapa ciri lain yang menonjol pada anak yang memiliki kecerdasan linguistik, yaitu mampu berargumentasi dengan baik dan lancar, mampu mengeja kata-kata dengan tepat, sangat senang mengisi teka-teki silang, tertarik dengan suara, arti, dan narasi, mampu menuliskan pengalaman kesehariannya secara baik dibandingkan anak seusianya, memiliki kosakata yang banyak dibandingkan anak seusianya, banyak memberikan pendapat, masukan, kritik kepada orang lain, dan mampu bercerita panjang lebar.

B. Berbagai Kebutuhan yang Mempengaruhi Kecerdasan Linguistik Anak

Menyadari arti penting mengembangkan kecerdasan linguistik anak, hal yang perlu diperhatikan adalah berbagai kebutuhan yang diperlukan anak sejak usia dini. Ada tiga kebutuhan pokok yang harus dipenuhi pada anak sejak dalam kandungan. 1. Kebutuhan fisik-biologis yang harus dipenuhi dengan pemberian gizi yang baik sejak anak dalam kandungan. Gizi yang cukup baik untuk perkembangan otak anak, pencegah berbagai penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, dan sebagai sumber tenaga fisik untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 2. Kebutuhan emosi dan kasih sayang. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan senantiasa melindungi anak, membuat anak merasa nyaman dan aman, memperhatikan dan menghargai anak, tidak menghukum anak dengan kemarahan, tetapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih sayang. 3. Kebutuhan stimulasi meliputi rangsangan yang terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua sistem sensorik dan motorik anak.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Linguistik Anak

Tingkat kecerdasan linguistik yang dimiliki anak ditentukan oleh tiga faktor yang saling bekerja sama seperti yang diungkapkan oleh Dr. Richard Masland, direktur Institut Penyakit Syaraf dan Kebutaan di Amerika Serikat dalam penelitiannya. Ketiga faktor tersebut adalah;

1. Keadaan otak anak beserta susunan syarafnya yang diwarisi dari orang tua

Anak yang memiliki orang tua cerdas, maka anak tersebut berpeluang untuk menjadi anak yang cerdas, namun tidak secara otomatis anak dari orang tua cerdas menjadi cerdas pula karena faktor lain yang juga tidak kalah penting, seperti pengalaman, kemampuan anak memahami materi, dan sebagainya.

2. Perubahan-perubahan di dalam atau kerusakan pada pusat susunan syaraf yang dibedakan cedera atau penyakit, sebelum atau sesudah lahir

Cedera pada otak dan penyakit yang dialami anak mempengaruhi kecerdasan yang dimilikinya. Baik yang dialami semasa anak dalam kandungan atau setelah anak dilahirkan.

3. Pengaruh lingkungan dan pengalaman anak

Untuk menjadi cerdas, tidak cukup bagi anak hanya mengandalkan faktor keturunan saja. Kecerdasan merupakan potensi yang harus dikembangkan. Melalui lingkungan, anak dapat mengembangkan kecerdasannya. Faktor lingkungan dan pengalaman terdiri atas pola asuh orang tua, sekolah, lingkungan tempat tinggal, asupan gizi bagi anak, dan lain-lain. Untuk mengembangkan kecerdasan linguistik anak sejak dini harus memperhatikan ketiga faktor di atas agar upaya mengembangkan kecerdasan linguistik anak dapat dilakukan secara optimal.

D. Stimulasi Dini untuk Meningkatkan Kecerdasan Linguistik Anak

Sebagai salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi agar kecerdasan linguistik anak dapat berkembang dengan baik, stimulasi dini memiliki peranan yang sangat penting. Menurut Bahaudin (2000: 237), stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi dalam kandungan (enam bulan dalam kandungan) dengan tujuan untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, peraba, pembau, dan pengecap).

  1. Cara melakukan stimulasi dini

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan untuk berinteraksi dengan bayi atau balita. Misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton tv, atau saat menemani anak tidur.

Stimulasi dilakukan secara bertahap berdasarkan usia anak karena setiap kebutuhan anak tiap usia berbeda.

  1. Stimulasi anak berumur 0-3 bulan

Stimulasi yang dapat dilakukan pada anak usia ini adalah dengan mengusahakan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan bagi anak, sering memeluk, menggendong, menatap mata bayi, dan mengajaknya tersenyum dan berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik secara bergantian, menggantung dan menggerakkan benda yang berwarna mencolok, menggulingkan bayi ke kanan dan ke kiri, menengkurapkan dan menelentangkan bayi, merangsang bayi untuk meraih dan memegang mainan.

  1. Stimulasi anak berumur 3-6 bulan

Stimulasi yang dapat dilakukan dengan mengajak anak bermain ’cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh di cermin, merangsang anak untuk tengkurap, telentang, dan duduk.

  1. Stimulasi anak berumur 6-9 bulan

Stimulasi yang dapat dilakukan adalah dengan memanggil namanya, membacakan dongeng, dan semakin sering mengajak anak berbicara.

  1. Stimulasi anak berumur 9-12 bulan

Stimulasi yang dilakukan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan ’mama’ dan ’papa’, mengenalkan nama-nama hewan pada anak

  1. Stimulasi anak berumur 12-18 bulan

Stimulasi dilanjutkan dengan melatih anak mencoret-coret di kertas, untuk melatih saraf motoriknya, mengajak anak bermain puzzle, memberikan perintah kepada anak (untuk mengambil bola, menata mainan, dan sebagainya).

  1. Stimulasi anak berumur 18-24 bulan

Stimulasi dilakukan dengan menanyakan bagian-bagian tubuh (mata, hidung, telinga, tangan, dan lain-lain), meminta anak menyebutkan nama-nama hewan di sekitarnya, dan mengajak berbicara tentang kegiatan yang yang telah dilakukan hari pada hari itu.

  1. Stimulasi anak berumur 2-3 tahun

Stimulasi ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, melatih anak menggunakan kata sifat, dan menyebutkan nama teman

  1. Stimulasi anak berumur 3 tahun

Setelah anak berumur tiga tahun, selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi juga diarahkan untuk kesiapan bersekolah, antara lain mengenal huruf dan angka, menulis, memabaca dengan benar, anak juga diajak untuk berdialog dengan lancar.

  1. Stimulasi anak berumur 3 tahun ke atas

Anak yang berumur 3 tahun ke atas sangat senang bermain tebak kata. Perbendaharaan kata dapat diajarkan dengan menerangkan ciri-ciri binatang, buah atau tanaman, kemudian anak diminta merangkai kata-kata tentang gambar yang dipotong dari majalah atau surat kabar. Anak diajak untuk menyusun gambar-gambar itu menjadi satu rangkaian cerita. Ketika anak telah mampu menulis, anak dapat dilatih mengungkapkan perasaannya dengan menulis kalimat pendek. Anak juga dapat distimulasi dengan melakukan permainan peran, misalnya menjadi dokter, guru, dan lain-lain. Mengajak anak bermain tebak kata, misalnya menyebutkan nama hewan, buah atau tanaman yang namanya berawalan dengan huruf A,B,C, dst. Membacakan dongeng kepada anak sebelum tidur atau saat anak meminta untuk dibacakan dongeng.

  1. Suasana saat stimulasi

Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan anak, setiap hari, terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya, dan dilakukan oleh keluarga (terutama ibu). Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenagkan dan kegembiraan antara orang tua dan anak. Stimulasi tidak boleh diberikan secara terburu-buru, tetapi harus dilakukan dengan memperhatikan minat dan keadaan anak. Orang tua (termasuk ibu) yang sering marah, tanpa disadari justru akan memberikan rangsangan emosional yang negatif karena pada prinsipnya, semua ucapan, sikap, dan perbuatan adalah stimulasi yang direkam, diingat, dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan pada anak.

  1. Alat yang Dapat Digunakan untuk Stimulasi

Saat melakukan stimulasi pada anak diperlukan adanya alat yang dapat memudahkan orang tua melakukan stimulasi pada anak, diantaranya adalah;

a. Tape recorder dan kaset

Orang tua dapat menyediakan tape recorder untuk anak berlatih mendengarkan sebuah informasi atau kata-kata. Dengan tape recorder dan kaset anak juga dapat berlatih berbicara (bagi anak yang belum dapat berbicara) dengan menirukan suara yang dikeluarkan kaset dari tape recorder yang diputarkan.

b. Buku harian atau buku catatan

Buku harian dapat membantu orang tua melatih anak untuk menyampaikan gagasan secara tertulis. Buku akan menjadi contoh uraian gagasan dan ide yang baik bagi anak karena kemampuan menguraikan gagasan dan ide yang baik adalah kunci pokok kecerdasan linguistik.

c. Buku bacaan

Buku bacaan menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi anak. Informasi dan pengetahuan adalah modal bagi anak untuk dapat menyampaikan gagasan dengan baik. Seorang anak tidak dapat menyampaikan gagasan apabila ia miskin informasi dan pengetahuan.

d. Perangkat menggambar

Seseorang dapat mengungkapkan pemikiran dan isi hatinya dengan menggambar atau melukis. Demikian juga anak, anak dapat mengungkapkan gagasan dan ide kreativnya melalui menggambar atau melukis. Dengan menyediakan perangkat gambar, anak akan terlatih untuk mengeluarkan gagasan secara bebas melalui gambar atau lukisan yang dibuatnya.

e. Teka-teki silang

Teka-teki silang dapat membantu orang tua melatih anak untuk menyelesaikan masalah yang menantang dan latihan untuk merangkai kata yang berhubungan, sehingga anak tidak hanya mampu menyelesiakan masalah, tetapi anak juga mampu menghubungkan hal-hal yang berkemungkinan untuk berhubungan melalui kata-kata

f. Petunjuk bahasa isyarat

Saat menyampaikan gagasan dengan baik, manusia tidak hanya menggunakan kata-kata verbal saja, tetapi manusia juga tidak lepas dari bahasa isyarat. Begitu juga anak, anak-anak juga biasa menggunakan bahasa isyarat ketika mereka membutuhkan sesuatu, terutama pada anak yang belum dapat berbicara. Bahasa isyarat yang biasa digunakan yaitu mengangguk (tanda setuju), menggeleng (tanda tidak setuju), mengacungkan tangan, berjabat tangan, dan memeluk.

g. Mikrofon

Berbicara merupakan salah satu kompetensi yang dihasilkan dari kecerdasan linguistik. Sebagai usaha untuk meningkatkan kecerdasan linguistik anak dalam hal berbicara, mikrofon merupakan alat yang dapat membantu orang tua untuk melatih anak berani berbicara dan tampil di depan umum. Anak dapat dilatih berpidato, menyanyi, dan membaca puisi dengan bantuan mikrofon.

h. Telepon

Saat ini telepon bukan hal yang asing bagi setiap orang, hampir semua orang memiliki telepon. Telepon ternyata juga dapat membantu orang tua untuk mengembangkan kecerdasan linguistik anak dengan cara membiarkan anak menerima telepon dari orang lain. Percakapan telepon adalah percakapan spontan. Anak akan berlatih mengembangkan kemampuan berbahasanya dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk menerima telepon dari orang lain. Melalui telepon anak dapat melatih kecakapannya berbicara dan bercakap-cakap dengan orang lain.

  1. Peran Orang Tua dalam Memberikan Stimulasi pada Anak

Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap demokratik, yaitu mau mendengarkan apa yang dibicarakan anak kepadanya, menghargai pendapat anak, mendorong anak untuk berani mengungkapkannya. Orang tua tidak boleh memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya. Orang tua juga tidak diperkenankan memaksakan kehendak pada anak.

Sebagai orang yang paling dekat, orang tua harus mampu mendorong anak untuk berani mengemukakan pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak membahayakan atau merugikan orang tua dan anak).

Orang tua tidak diperbolehkan mengancam dan menghukum anak ketika anak melakukan kesalahan karena pada umumnya anak belum tahu dan mereka sedang dalam tahap belajar. Oleh karena itu orang tua harus bertanya mengapa anak berbuat demikian, kemudian membiarkan anak memperbaiki kesalahannya dengan caranya sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian anak untuk mengemukakan pikiran, gagasan, pendapat, dan bertindak.

Selain itu orang tua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu, menghargai usaha-usaha yang telah dilakukan anak, memberikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun.

Orang tua juga harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai benda atau kejadian yang ada di lingkungan sekitarnya. Orang tua harus mampu menjawab dengan cara menyediakan sarana yang dapat merangsang cara berpikir anak, misalnya dengan memberikan gambar, buku, dan teka-teki.

Orang tua harus memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, dan mewujudkan gagasan anak dengan cara masing-masing. Biarkan anak menyusun kata, berbicara, menjawab pertanyaan dengan hasil pemikiran mereka sendiri, tetapi jika ada kesalahan atau penyimpangan, orang tua harus segera memberikan nasehat dan jalan keluar.

E. Kompetensi yang Dihasilkan dari Kecerdasan Linguistik

Kompetensi berbahasa ada empat, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Melalui kecerdasan linguistik yang dimiliki, anak dapat menggunakan kompetensi berbahasa yang dimilikinya dengan sangat baik. Berikut kompetensi yang dimiliki anak dari kecerdasan linguistik yang dimilikinya.1. Pada kompetensi mendengarkan, anak dapat memahami cerita, baik cerita pendek maupun cerita yang panjang, memahami maksud percakapan, mampu menangkap arti perintah, mampu menguasai kosakata, dan mampu menangkap makna puisi. 2. Pada kompetensi berbicara, anak mampu berbicara dengan artikulasi dan intonasi yang tepat, dapat menyampaikan gagasan dengan baik, mampu berdiskusi dan berdebat, dan mampu mengulang hafalan.3. Pada kompetensi membaca, anak dapat memahami bacaan, mengerti arti kata-kata dan ungkapan yang digunakan, mampu menagkap pesan utama bacaan, membaca dengan kecepatan yang baik. 4. Pada kompetensi menulis, anak mampu mengungkapkan gagasan atau ide dalam bentuk tulisan, dapat mengapresiasi sesuatu dalam bentuk tulisan, mampu memilih dan merangkai kata sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Seluruh kompetensi ini akan dapat tercapai dengan baik jika stimulasi yang diberikan kepada anak berjalan dengan baik dan benar.

F. Simpulan

Dari berbagai pembahasan dapat diperoleh simpulan sebagai berikut.

1. Kecerdasan Linguistik adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan berbicara, menulis, membaca, dan semua kemampuan berbahasa seseorang. Kecerdasan linguistik atau yang biasa disebut kecerdasan berbahasa, memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun secara lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya.

2. Ada tiga kebutuhan yang dapat mempengaruhi kecerdasan linguistik anak, yaitu a. Kebutuhan fisik dan biologis yang harus dipenuhi dengan pemberian gizi yang baik sejak anak dalam kandungan, b. Kebutuhan emosi dan kasih sayang yang dapat dipenuhi dengan senantiasa melindungi anak, membuat anak merasa nyaman dan aman, serta memperhatikan dan menghargai anak, c. Kebutuhan stimulasi yang meliputi rangsangan secara terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua sistem sensorik dan motorik anak.

3. Menurut Dr. Richard Masland, ada tiga faktor yang mempengaruhi kecerdasan linguistik anak, yaitu keadaan otak anak beserta susunan syarafnya yang diwarisi dari orang tua, perubahan-perubahan di dalam atau kerusakan pada pusat susunan syaraf yang disebabkan cedera pada otak dan penyakit yang dialami anak mempengaruhi kecerdasan yang dimilikinya baik yang dialami semasa anak dalam kandungan atau setelah anak dilahirkan, pengaruh lingkungan dan pengalaman anak.

4. Stimulasi dini memiliki peranan yang sangat penting. Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi dalam kandungan (enam bulan dalam kandungan) dengan tujuan untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, peraba, pembau, dan pengecap). Stimulasi dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan umur anak. Jadi pemberian stimulasi pada anak terus bertambah dan berbeda-beda seiring dengan perkembangan anak.

Hal yang perlu diperhatikan saat memberikan stimulasi kepada anak adalah suasana saat memberikan stimulasi. Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenagkan dan kegembiraan antara orang tua dan anak. Stimulasi tidak boleh diberikan secara terburu-buru, tetapi harus dilakukan dengan memperhatikan minat dan keadaan anak. Selain suasana saat stimulasi, hal yang juga penting adalah menggunakan alat bantu stimulasi. Alat-alat yang dapat digunakan dapat diambil dari alat-alat yang ada di rumah, seperti tape recorder dan kaset, buku harian atau buku catatan, buku bacaan, perangkat menggambar, teka-teki silang, petunjuk bahasa isyarat, mikrofon, dan telepon. Pemberian stimulasi pada anak tidak lepas dari peranan orang tua. Orang tua sangat berperan penting dalam keberhasilan stimulasi yang dilakukan karena orang tua adalah orang terdekat yang selalu ada di samping anak. Stimulasi akan berhasil juka orang tua dapat melakukan stimulasi dengan benar dan teratur sesuai perkembangan anak.

5. Kompetensi berbahasa yang dapat dihasilkan dari kecerdasan linguistik jika stimulasi dapat dilakukan dengan baik dan benar, yaitu

a. Pada kompetensi mendengarkan, anak dapat memahami cerita, baik cerita pendek maupun cerita yang panjang, memahami maksud percakapan, mampu menangkap arti perintah, mampu menguasai kosakata, dan mampu menangkap makna puisi.

b. Pada kompetensi berbicara, anak mampu berbicara dengan artikulasi dan intonasi yang tepat, dapat menyampaikan gagasan dengan baik, mampu berdiskusi dan berdebat, dan mampu mengulang hafalan.

c. Pada kompetensi membaca, anak dapat memahami bacaan, mengerti arti kata-kata dan ungkapan yang digunakan, mampu menagkap pesan utama bacaan, membaca dengan kecepatan yang baik.

d. Pada kompetensi menulis, anak mampu mengungkapkan gagasan atau ide dalam bentuk tulisan, dapat mengapresiasi sesuatu dalam bentuk tulisan, mampu memilih dan merangkai kata sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Daftar Pustaka

Bahaudin, T. 2000. Brainware Management: Generasi Kelima Managemen Manusia. Jakarta: PT. Elex Media Computindo Kelompok Gramedia

Dryden, Gordon dan Jeannette Vos. The Learning Revolution (Revolusi Cara Belajar). Bandung: Kaifa

Hendriati, Agustiani. 2000. Mengajarkan Kecerdasan pada Anak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Tama

Hernowo. 2002. Mengikat Makna: Kiat-Kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku. Bandung: Kaifa

Apresiasi Prosa Fiksi


Superego dan Ego: Pengaruh kepribadian Theseus dan Ariadne dalam Novel Theseus


A. Pengantar
Saat seorang apresiator menghadapi sebuah karya sastra, terutama prosa fiksi untuk melakukan apresiasi, apresiator dapat mengapresiasikan karya sastra melalui beberapa pendekatan. Salah satu pendekan yang dapat digunakan oleh apresiator dalam mengapresiasikan karya sastra adalah pendekatan psikologi. Pendekatan psikologi berusaha memahami prosa fiksi sebagai sebuah kreasi yang tidak dapat dilepaskan dan aspek psikologis, terutama pengarang, pembaca, dan hal lain dalam prosa fiksi.
Karya sastra yang merupakan dunia baru hasil cipta pengarang. Secara sadar atau tidak sadar pengarang sebagai telah memasukkan aspek-aspek kehidupan manusia di dalam karya sastranya. Hal inilah yang menjadi kajian psikologi, yaitu aspek-aspek manusia yang diciptakan dalam karya sastra (tokoh-tokoh dalam karya sastra) yang memiliki aspek-aspek kejiwaan. Jika kita mengaji tentang psikologi berarti kita menganalisis tentang kepribadan seseorang. Seperti yang diungkapkan oleh Freud, bahwa Psikologi adalah semua gejala yang bersifat mental bersifat tak sadar yang tertutup oleh alam kesadaran.

B. Teori Kepribadian menurut Freud
Seorang manusia memiliki kepribadian dalam diri mereka masing-masing. Setiap kepribadian yang dimiliki manusia satu tidak sama dengan yang lain. Freud membagi teori kepribadian menjadi tiga, yaitu Id (Es), Ego (Ich), dan Super Ego (Uber ich). Id merupakan dorongan biologis dan berada dalam ketidaksadaran. Id beroperasi menurut prinsip kenikmatan (pleasure principle) dan mencari kepuasan segera. Ego adalah pikiran yang beroperasi menurut prinsip kenyataan (reality principle) yang memuaskan dorongan id menurut cara-cara yang dapat diterima masyarakat. Adapun superego, yang terbentuk melalui proses identifikasi dalam pertengahan masa kanak-kanak, merupakan bagian dari nilai-nilai moral dan beroperasi menurut prinsip moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan nilai baik-buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan Ego yaitu Id.
Dalam memahami psikologi sastra, kita dapat menggunakan beberapa cara, yaitu: a) memahami unsur-unsur kejiwaaan pengarang sebagai penulis; b) memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional dalam karya sastra; c) memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca. Dengan tidak merendahkan kajian yang lainnya, seringkali psikologi sastra ini dikaitkan dengan permasalahan yang kedua, yakni psikologi yang berkaitan dengan kejiwaan tokoh-tokoh fiksionalitas dalam karya sastra. Hal ini terjadi karena sastra merupakan dunia baru di luar dunia nyata, yang di dalamnya terdapat aspek-aspek kehidupan manusia. Dengan adanya fakta-fakta yang diberikan atau diungkapkan oleh pengarang secara langsung maupuan tidak langsung seperti karakter, perwatakan, karakteristik tokoh-tokoh, dan lainnya, maka seorang apresiatior dapat dengan mudah menganalisis sastra dari segi psikologinya

C. Superego dalam diri Theseus
Sebagai seorang putra mahkota Attika, sudah seharusnya Theseus dipandang lebih daripada kebanyakan orang. Namun Theseus tidak menginginkan pengecualian-pengecualian yang turun temurun itu, walaupun hal itu hanyalah suatu alasan yang dibuat-buat Theseus agar dia bisa hidup bebas untuk menikmati kehidupan yang sejak kecil dia impikan. Maka dia menginginkan agar dia dijadikan salah satu dari ketigabelas korban (sesajen yang akan dihidangkan kepada Minotaur, yaitu makhluk yang dilahirkan oleh Pasiphae, istri minos yang pernah punya hubungan dengan sapi). Korban ini diberikan kepada Minos penguasa pulau Kreta yang menganggap bahwa Attika bertanggung jawab atas kematian anaknya Androgeus. Theseus bermaksud ingin mengalahkan Minotaur dan akan membebaskan yunani dari kewajiban membayar upeti yang mengerikan kepada Kreta ( pulau yang dikuasai minos), theseus juga menginginkan Kreta mengirimkan kepada Yunani (Attika) barang-barang berharga, indah dan aneh. (halaman 13). Dengan menggunakan layar, akhirnya Theseus berangkat bersama keduabelas korban yang lain, yang salah satu diantaranya adalah sahabatnya Pirithous. Pada pagi bulan Maret Theseus dan korban lainnya sampai di Kreta. Disinilah awal mula Theseus bertemu dengan putri minor yang tertua, Ariadne dan adiknya Phaedra.(halaman 14). Pada jamuan pertama Theseus dan korban lainnya dipisahkan karena permintaan Ariadne. Dalam keadaan sendirian, Theseus diberi pertanyaan dan Theseus pun mengaku dengan jujur bahwa dirinya adalah seorang cucu Pittheus dan dirinya dilahirkan oleh Poseidon. Namun tidak begitu saja Minos, istrinya serta kedua anaknya percaya bahwa Theseus adalah seorang Poseidon. Maka Theseus diuji di sebuah pantai laut, dengan kecerdikannya dia lolos dari ujian, akhirnya Minos, istrinya serta kedua anaknya percaya bahwa Theseus adalah seorang Poseidon.(halaman halaman 15--18).

D. Ego dalam diri Ariadne
Rasa suka yang sangat dirasakan Ariadne pada theseus menjadikan Ariadne melupakan segalanya. Ariadne lebih mendahulukan ego dan emosinal yang kuat dan mengalahkan kesadaran otaknya. Dia sudah tidak memperdulikan siapa lawan yang akan dihadapi oleh Theseus. Bahkan dia menganggap gila ibunya, yang berusaha membujuk Theseus agar mau mengalah kepada anaknya (Minotaur). Walupun Ariadne mengetahui bahwa lawan yang akan dihadapi Theseus adalah saudaranya sendiri, namun dia tetap mendukung agar Theseus menang. Dia memberikan motivasi serta dorongan agar Theseus tetap optimis menang melawan Minotaur.
“Tapi aku ingin supaya engkau (Theseus) berhasil. Dengarkan baik-baik. Aku yakin engkau akan menang. Rupamu meyakinkan sekali. Kemenangan tak dapat dibantah sudah pasti” (halaman26--27).
Kesukaan Ariadne pada Theseus sudah menjadi-jadi, dia sudah tidak memperdulikan lagi jika suatu saat ayahnya (Minos) tidak menyukai dan tidak merestui hubungan mereka. Dia menganggap hal itu sebagai suatu hal yang biasa. Ariadne tidak lagi menggunakan akal sehatnya dia lebih mendahulukan emosi serta egonya. Dia rela diusir dari istana Minos, jika dia selalu bersama Theseus dimanapun dia berada. (halaman 28).
“Yang sudah sudahlah. Sudah tak dapat dikejar lagi. “Dan kiranya kata-kata itu juga yang akan dikatakan sehubungan dengan soal kita ini. Paling banyak kau diusir dari istananya. Dan kalau sudah begitu aku akan ikut kau ke mana juga”.
Rasa cinta Ariadne yang begitu besar kepada Theseus dibuktikan dengan mencarikan jalan keluar bagi Theseus untuk keluar dari masalah sehingga Theseus dapat mengalahkan Minotaur dan pulang dengan selamat. Maka Theseus diantarkan kepada seseorang yang akan melukiskan Minotaur kepada Theseus yaitu Deadalus, Deadaluslah yang telah membuat Labyrinth (tempat tinggal Minotaur) serta dialah yang telah membina Minotaur (halaman 27).
Rasa cinta Ariadne kepada Theseus yang begitu besar tidak membuat Theseus begitu saja terpesona dan jatuh cinta kepadanya. Cinta Ariadne yang begitu besar kepada Theseus justru dibalas Theseus dengan pengkhianatan. Theseus tidak mau tahu bahwa dirinya dapat lolos dari maut atau menang melawan Minotaur berkat pertolongan Ariadne. Theseus justru mengangap kemenangan yang ia dapatkan adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Theseus lebih mencintai Phaedra (adik kandung Ariadne) daripada Ariadne, Thesius muak dengan sikap Ariadne yang mudah sekali menyerahkan dirinya, Theseus juga merasa jemu dengan sikap lemah lembut yang dipaksa-paksa itu secara berlebih-lebihan, jemu terhadap desakan untuk meyakinkan cintanya yang abadi, nama-nama manis yang diberikan Ariadne kepada Theseus, dan Ariadne sangat mencintai sastra yang justru dibenci oleh Theseus (halaman 28). Dengan bantuan Pirithous sahabatnya, Theseus merencanakan siasat yang dapat membuat Theseus dan Phaedra meninggalkan Kreta menuju Yunani dengan selamat.
Siasat yang telah diatur sebelumnya mulai dijalankan. Hal pertama yang dilakukan Theseus adalah membujuk Ariadne agar mengajak adiknya Glaukus (adik laki-laki Ariadne yang wajahnya mirip dengan Phaedra). Langkah kedua memotong rambut Phaedra agar mirip seperti Glaukus sehingga tak ada orang yang curiga. Akhirnya tibalah waktunya untuk menjalankan rencana tersebut. Ariadne telah lebih dulu pergi ke kapal untuk mempersiapkan tempat untuknya. setelah makan malam, kemudian Phaedra pura-pura meninggalkan ruang makan dan langsung menuju ke kapal dengan perhitungan tidak ada orang yang tahu sampai waktu pagi. Rencana berjalan seperti apa yang dinginkan Theseus. Akhirnya Theseus dan sahabatnya serta Phaedra dan Ariadne meninggalkan Kreta(halaman 48 – 50). Dalam pelayaran Ariadne belum mengetahui kalau dirinya sebenarnya ditipu oleh Theseus. Namun, sepandai-pandainya Theseus menyembunyikan rencananya, akhirnya Ariadne pun mengetahui tipu muslihat bahwa Phaedralah yang ikut bersama dengan pakaian Glaukus, maka Ariadne pun marah, menjerit-jerit mengancam, dan menuduh Theseus berkhianat. Akhirnya Theseus menurunkan Ariadne di pulau Naxos. Pada saat akan diturunkan Ariadne mengancam akan membuat sebuah nyanyian yang menggambarkan betapa rendahnya Theseus karena meninggalkan dirinya. (halaman 51) Ancaman inilah yang justru membuat Theseus gelisah untuk memikirkannya dikemudian hari. Ketika ego didahulukan tanpa mempertimbangkan dengan akal sehat maka kehancuran dan kebinasahan serta penyesalan akan datang kepadanya. Kata-kata itulah yang cocok untuk menggambarkan kehidupan atau keadaan Ariadne pada saat itu karena Ariadne mendahulukan egonya untuk mencintai Theseus dengan melawan orang tua dan keluarganya tanpa pertimbangan akal sehat, sehingga ia menyesal pada akhirnya karena Theseus telah berkhianat kepadanya.

E. Penutup
Novel Theseus terdapat banyak keunikan, salah satunya adalah banyaknya gejala-gejala psikologis tokoh yang diungkapkan secara tersembunyi tapi dapat dirasakan dari sikap para tokoh dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Seperti yang dialami oleh Theseus yang kepribadiannya lebih dipengaruhi oleh superego, yang dipengaruhi oleh apa yang telah dialaminya saat masa kanak-kanak dan perlakuan yang diberikan oleh orang tuanya sangat mempengaruhi terbentuknya superego dalam diri Theseus karena superego terbentuk karena adanya fitur yang paling berpengaruh seperti orang tua. Dengan terbentuknya superego pada individu, maka kontrol terhadap sikap yang dilakukan orang tua, dalam perkembangan selanjutnya dilakukan oleh individu sendiri. Seperti yang terjadi pada diri Theseus.
Kepribadian tokoh lain yang sangat menonjol adalah ego yang terdapat dalam diri Ariadne, yang sangat terlihat saat dia mulai bertemu dengan Theseus dan jatuh cinta kepadanya membuat Ariadne seolah lupa dan tidak dapat berfikir jernih sehingga dia berani melawan orang tua dan saudaranya demi membela Theseus. Meskipun pada akhirnya tindakan Ariadne menjadi sia-sia tatkala Theseus mengkhianatinya dengan lebih memilih pergi meninggalkan Kreta bersama adik Ariadne yang bernama Phaedra dan meninggalkan Ariadne di pulau Naxos. Ego memang kerap mengalahkan akal sehat seseorang.