Rabu, 03 November 2010

Apresiasi Prosa Fiksi


Superego dan Ego: Pengaruh kepribadian Theseus dan Ariadne dalam Novel Theseus


A. Pengantar
Saat seorang apresiator menghadapi sebuah karya sastra, terutama prosa fiksi untuk melakukan apresiasi, apresiator dapat mengapresiasikan karya sastra melalui beberapa pendekatan. Salah satu pendekan yang dapat digunakan oleh apresiator dalam mengapresiasikan karya sastra adalah pendekatan psikologi. Pendekatan psikologi berusaha memahami prosa fiksi sebagai sebuah kreasi yang tidak dapat dilepaskan dan aspek psikologis, terutama pengarang, pembaca, dan hal lain dalam prosa fiksi.
Karya sastra yang merupakan dunia baru hasil cipta pengarang. Secara sadar atau tidak sadar pengarang sebagai telah memasukkan aspek-aspek kehidupan manusia di dalam karya sastranya. Hal inilah yang menjadi kajian psikologi, yaitu aspek-aspek manusia yang diciptakan dalam karya sastra (tokoh-tokoh dalam karya sastra) yang memiliki aspek-aspek kejiwaan. Jika kita mengaji tentang psikologi berarti kita menganalisis tentang kepribadan seseorang. Seperti yang diungkapkan oleh Freud, bahwa Psikologi adalah semua gejala yang bersifat mental bersifat tak sadar yang tertutup oleh alam kesadaran.

B. Teori Kepribadian menurut Freud
Seorang manusia memiliki kepribadian dalam diri mereka masing-masing. Setiap kepribadian yang dimiliki manusia satu tidak sama dengan yang lain. Freud membagi teori kepribadian menjadi tiga, yaitu Id (Es), Ego (Ich), dan Super Ego (Uber ich). Id merupakan dorongan biologis dan berada dalam ketidaksadaran. Id beroperasi menurut prinsip kenikmatan (pleasure principle) dan mencari kepuasan segera. Ego adalah pikiran yang beroperasi menurut prinsip kenyataan (reality principle) yang memuaskan dorongan id menurut cara-cara yang dapat diterima masyarakat. Adapun superego, yang terbentuk melalui proses identifikasi dalam pertengahan masa kanak-kanak, merupakan bagian dari nilai-nilai moral dan beroperasi menurut prinsip moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan nilai baik-buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan Ego yaitu Id.
Dalam memahami psikologi sastra, kita dapat menggunakan beberapa cara, yaitu: a) memahami unsur-unsur kejiwaaan pengarang sebagai penulis; b) memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional dalam karya sastra; c) memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca. Dengan tidak merendahkan kajian yang lainnya, seringkali psikologi sastra ini dikaitkan dengan permasalahan yang kedua, yakni psikologi yang berkaitan dengan kejiwaan tokoh-tokoh fiksionalitas dalam karya sastra. Hal ini terjadi karena sastra merupakan dunia baru di luar dunia nyata, yang di dalamnya terdapat aspek-aspek kehidupan manusia. Dengan adanya fakta-fakta yang diberikan atau diungkapkan oleh pengarang secara langsung maupuan tidak langsung seperti karakter, perwatakan, karakteristik tokoh-tokoh, dan lainnya, maka seorang apresiatior dapat dengan mudah menganalisis sastra dari segi psikologinya

C. Superego dalam diri Theseus
Sebagai seorang putra mahkota Attika, sudah seharusnya Theseus dipandang lebih daripada kebanyakan orang. Namun Theseus tidak menginginkan pengecualian-pengecualian yang turun temurun itu, walaupun hal itu hanyalah suatu alasan yang dibuat-buat Theseus agar dia bisa hidup bebas untuk menikmati kehidupan yang sejak kecil dia impikan. Maka dia menginginkan agar dia dijadikan salah satu dari ketigabelas korban (sesajen yang akan dihidangkan kepada Minotaur, yaitu makhluk yang dilahirkan oleh Pasiphae, istri minos yang pernah punya hubungan dengan sapi). Korban ini diberikan kepada Minos penguasa pulau Kreta yang menganggap bahwa Attika bertanggung jawab atas kematian anaknya Androgeus. Theseus bermaksud ingin mengalahkan Minotaur dan akan membebaskan yunani dari kewajiban membayar upeti yang mengerikan kepada Kreta ( pulau yang dikuasai minos), theseus juga menginginkan Kreta mengirimkan kepada Yunani (Attika) barang-barang berharga, indah dan aneh. (halaman 13). Dengan menggunakan layar, akhirnya Theseus berangkat bersama keduabelas korban yang lain, yang salah satu diantaranya adalah sahabatnya Pirithous. Pada pagi bulan Maret Theseus dan korban lainnya sampai di Kreta. Disinilah awal mula Theseus bertemu dengan putri minor yang tertua, Ariadne dan adiknya Phaedra.(halaman 14). Pada jamuan pertama Theseus dan korban lainnya dipisahkan karena permintaan Ariadne. Dalam keadaan sendirian, Theseus diberi pertanyaan dan Theseus pun mengaku dengan jujur bahwa dirinya adalah seorang cucu Pittheus dan dirinya dilahirkan oleh Poseidon. Namun tidak begitu saja Minos, istrinya serta kedua anaknya percaya bahwa Theseus adalah seorang Poseidon. Maka Theseus diuji di sebuah pantai laut, dengan kecerdikannya dia lolos dari ujian, akhirnya Minos, istrinya serta kedua anaknya percaya bahwa Theseus adalah seorang Poseidon.(halaman halaman 15--18).

D. Ego dalam diri Ariadne
Rasa suka yang sangat dirasakan Ariadne pada theseus menjadikan Ariadne melupakan segalanya. Ariadne lebih mendahulukan ego dan emosinal yang kuat dan mengalahkan kesadaran otaknya. Dia sudah tidak memperdulikan siapa lawan yang akan dihadapi oleh Theseus. Bahkan dia menganggap gila ibunya, yang berusaha membujuk Theseus agar mau mengalah kepada anaknya (Minotaur). Walupun Ariadne mengetahui bahwa lawan yang akan dihadapi Theseus adalah saudaranya sendiri, namun dia tetap mendukung agar Theseus menang. Dia memberikan motivasi serta dorongan agar Theseus tetap optimis menang melawan Minotaur.
“Tapi aku ingin supaya engkau (Theseus) berhasil. Dengarkan baik-baik. Aku yakin engkau akan menang. Rupamu meyakinkan sekali. Kemenangan tak dapat dibantah sudah pasti” (halaman26--27).
Kesukaan Ariadne pada Theseus sudah menjadi-jadi, dia sudah tidak memperdulikan lagi jika suatu saat ayahnya (Minos) tidak menyukai dan tidak merestui hubungan mereka. Dia menganggap hal itu sebagai suatu hal yang biasa. Ariadne tidak lagi menggunakan akal sehatnya dia lebih mendahulukan emosi serta egonya. Dia rela diusir dari istana Minos, jika dia selalu bersama Theseus dimanapun dia berada. (halaman 28).
“Yang sudah sudahlah. Sudah tak dapat dikejar lagi. “Dan kiranya kata-kata itu juga yang akan dikatakan sehubungan dengan soal kita ini. Paling banyak kau diusir dari istananya. Dan kalau sudah begitu aku akan ikut kau ke mana juga”.
Rasa cinta Ariadne yang begitu besar kepada Theseus dibuktikan dengan mencarikan jalan keluar bagi Theseus untuk keluar dari masalah sehingga Theseus dapat mengalahkan Minotaur dan pulang dengan selamat. Maka Theseus diantarkan kepada seseorang yang akan melukiskan Minotaur kepada Theseus yaitu Deadalus, Deadaluslah yang telah membuat Labyrinth (tempat tinggal Minotaur) serta dialah yang telah membina Minotaur (halaman 27).
Rasa cinta Ariadne kepada Theseus yang begitu besar tidak membuat Theseus begitu saja terpesona dan jatuh cinta kepadanya. Cinta Ariadne yang begitu besar kepada Theseus justru dibalas Theseus dengan pengkhianatan. Theseus tidak mau tahu bahwa dirinya dapat lolos dari maut atau menang melawan Minotaur berkat pertolongan Ariadne. Theseus justru mengangap kemenangan yang ia dapatkan adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Theseus lebih mencintai Phaedra (adik kandung Ariadne) daripada Ariadne, Thesius muak dengan sikap Ariadne yang mudah sekali menyerahkan dirinya, Theseus juga merasa jemu dengan sikap lemah lembut yang dipaksa-paksa itu secara berlebih-lebihan, jemu terhadap desakan untuk meyakinkan cintanya yang abadi, nama-nama manis yang diberikan Ariadne kepada Theseus, dan Ariadne sangat mencintai sastra yang justru dibenci oleh Theseus (halaman 28). Dengan bantuan Pirithous sahabatnya, Theseus merencanakan siasat yang dapat membuat Theseus dan Phaedra meninggalkan Kreta menuju Yunani dengan selamat.
Siasat yang telah diatur sebelumnya mulai dijalankan. Hal pertama yang dilakukan Theseus adalah membujuk Ariadne agar mengajak adiknya Glaukus (adik laki-laki Ariadne yang wajahnya mirip dengan Phaedra). Langkah kedua memotong rambut Phaedra agar mirip seperti Glaukus sehingga tak ada orang yang curiga. Akhirnya tibalah waktunya untuk menjalankan rencana tersebut. Ariadne telah lebih dulu pergi ke kapal untuk mempersiapkan tempat untuknya. setelah makan malam, kemudian Phaedra pura-pura meninggalkan ruang makan dan langsung menuju ke kapal dengan perhitungan tidak ada orang yang tahu sampai waktu pagi. Rencana berjalan seperti apa yang dinginkan Theseus. Akhirnya Theseus dan sahabatnya serta Phaedra dan Ariadne meninggalkan Kreta(halaman 48 – 50). Dalam pelayaran Ariadne belum mengetahui kalau dirinya sebenarnya ditipu oleh Theseus. Namun, sepandai-pandainya Theseus menyembunyikan rencananya, akhirnya Ariadne pun mengetahui tipu muslihat bahwa Phaedralah yang ikut bersama dengan pakaian Glaukus, maka Ariadne pun marah, menjerit-jerit mengancam, dan menuduh Theseus berkhianat. Akhirnya Theseus menurunkan Ariadne di pulau Naxos. Pada saat akan diturunkan Ariadne mengancam akan membuat sebuah nyanyian yang menggambarkan betapa rendahnya Theseus karena meninggalkan dirinya. (halaman 51) Ancaman inilah yang justru membuat Theseus gelisah untuk memikirkannya dikemudian hari. Ketika ego didahulukan tanpa mempertimbangkan dengan akal sehat maka kehancuran dan kebinasahan serta penyesalan akan datang kepadanya. Kata-kata itulah yang cocok untuk menggambarkan kehidupan atau keadaan Ariadne pada saat itu karena Ariadne mendahulukan egonya untuk mencintai Theseus dengan melawan orang tua dan keluarganya tanpa pertimbangan akal sehat, sehingga ia menyesal pada akhirnya karena Theseus telah berkhianat kepadanya.

E. Penutup
Novel Theseus terdapat banyak keunikan, salah satunya adalah banyaknya gejala-gejala psikologis tokoh yang diungkapkan secara tersembunyi tapi dapat dirasakan dari sikap para tokoh dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Seperti yang dialami oleh Theseus yang kepribadiannya lebih dipengaruhi oleh superego, yang dipengaruhi oleh apa yang telah dialaminya saat masa kanak-kanak dan perlakuan yang diberikan oleh orang tuanya sangat mempengaruhi terbentuknya superego dalam diri Theseus karena superego terbentuk karena adanya fitur yang paling berpengaruh seperti orang tua. Dengan terbentuknya superego pada individu, maka kontrol terhadap sikap yang dilakukan orang tua, dalam perkembangan selanjutnya dilakukan oleh individu sendiri. Seperti yang terjadi pada diri Theseus.
Kepribadian tokoh lain yang sangat menonjol adalah ego yang terdapat dalam diri Ariadne, yang sangat terlihat saat dia mulai bertemu dengan Theseus dan jatuh cinta kepadanya membuat Ariadne seolah lupa dan tidak dapat berfikir jernih sehingga dia berani melawan orang tua dan saudaranya demi membela Theseus. Meskipun pada akhirnya tindakan Ariadne menjadi sia-sia tatkala Theseus mengkhianatinya dengan lebih memilih pergi meninggalkan Kreta bersama adik Ariadne yang bernama Phaedra dan meninggalkan Ariadne di pulau Naxos. Ego memang kerap mengalahkan akal sehat seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar